Archive for the The Journey Category

Garuk-garuk..

Posted in The Journey with tags , on November 11, 2009 by abah

Gateeel… in english biasanya sih disebut “itchy”, tapi ini bukan karena ga mandi loh, tp lebih karena pengen melakukan sesuatu cuman ndak terlaksana, bete ndak sih, huhuhu…

Banyak rencana-rencana yang belum terlaksana, termasuk rajin menulis di blog ini-pun belum tereleasasi secara optimal, aah payah!! Tepat dua bulan lebih sehari blognya ga tersentuh, sarang laba-labanya serasa udah tersebar disetiap pojokan terkecil di web ini..

Kau pikir semua berjalan seperti yang kau inginkan..
Tapi hidup meletakkan banyak belokan di jalanmu..
Satu belokan kecil bisa menimbulkan takdir yang berbeda..

Karena gatel makanya harus digaruk, so klo belum terlaksana, maka harus dilaksanakan!!!

Temaaaann-temann, jadi yah kita pergi tahun depaaaaaaan, heuheuheuehue….

1

Harus Jadi Besok Pagi!!!!

Posted in Bincang Bebas, The Journey with tags , , , on September 2, 2009 by abah

Kita pasti masih ingat (ya mungkin sedikit sih :p) cerita tentang Roro Jonggrang. Roro Jonggrang adalah seorang Putri Kerajaan Prambanan yang cantik jelita yang membuat Bandung Bondowoso (seorang yang suka memerintah dengan kejam) ingin mempersuntingnya. Singkat cerita, sang Putri-pun harus memutar otak supaya hal itu tidak menimpa dirinya.

“Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah!!”, kata sang Putri..
“Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.”, ujar sang Putri menambahi…

Ada juga cerita tentang Sangkuriang, yang secara tidak sengaja ingin menikahi Dayang Sumbi yang notabene adalah ibunya sendiri. Maka sang ibupun melakukan hal yang sama dengan Roro Jonggrang, yakni mengajukan syarat supaya pernikahan itu gagal. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Dan lagi-lagi kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing atau bisa dikatakan hanya satu malam saja.

Tak jauh-jauh dari cerita diatas, tersebutlah seorang pemuda (–sebut saja saya) mengalami hal yang sama.  Sempet mikir juga, apa salah dan dosaku, kok bisa-bisanya semua harus dilaksanakan serba cepat dan harus jadi dalam  waktu semalam. Jangankan kenal sama Sangkuriang, sama Roro Jonggrang-pun belum pernah naksir sama sekali gw, wkwkwkw.. Tapi anehnya kami (–atau bahkan kita) harus berbagi suatu pengalaman yang sama, sama-sama harus kerja semalam, harus kerja cepat, dan harus dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Teringat sewaktu kuliah dulu (–serasa dejavu banget!!), dimana tugas dikerjakan pada saat injury time (–alesannya sih biar adrenalin semakin terpacu, tp sebenernya sih belum dapet masteran, wkwkwkw…), menghadapi ujian-pun dengan Sistem Kebut Semalam, bener-bener kebiasaan yang tidak bagus (–dari dulu juga dah tahu sih, cuma kok tetep aja kejadian yah??? Hehehe…)

The negative is sometimes you don’t know your mistakes until the last minutes, and you don’t have enough time to change it, but in the other way you learn that you have to Think Fast, Act Fast, and make sure that you’ve done it in correct way, no turn back, and no cash back!!! :)

Pada akhirnya sekelumit cerita diatas meyakinkan kita bahwa “We will not  go down in the night without a FIGHT”, so keep fighting, keep struggling, and keep the spirit up always!!!!

.

.

*sebuah metamorfosa Roro Jonggrang dan Sangkuriang[..]

I Just Wanna Say I Love You [Full]

Posted in Bincang Bebas, Cerita Pendek, The Journey with tags , , on August 31, 2009 by abah

Beberapa waktu lalu secara tidak sengaja kepikiran judul diatas, ga tau kenapa, tp klo sekiranya beneran, berarti lagu diatas akan dinyanyikan Melly Goeslaw ft. mbah Surip, heheheh… Tapi sayang mBah Surip keburu mendahului kita, semoga arwah beliau diterima disisi-Nya, amien..

Ngomongin ginian pasti ndak ada habisnya, begitu banyak lika-liku, manis getir, tangis tawa, dan juga setiap detail intrik dan problematika yang tak lupa ikut menghiasi satu kata itu. Tengok saja sudah berapa banyak lagu dan reality show di TV yang mengusung tema ini. Buku-pun begitu banyak ditulis untuk membahas masalah cinta, entah itu hanya sekedar cerita fiksi ataupun pengalaman pribadi si penulis. Yang jelas topik ini begitu populernya dikalangan remaja jaman sekarang.

“Aah,anak mudaaa……” gumamku dalam hati… 

Ada salah satu ungkapan bahwa terkadang “Cinta bertepuk sebelah tangan”, emang sih ndak dapat dipungkiri itu sering terjadi, tapi klo menurut gw ungkapan itu harus diubah, kita harus memandangnya sebagai sesuatu yang positif, untukku “Cinta itu harus bertepuk tangan”, agar semua orang bisa merasakan aura bahagia dari cinta itu, ndak hanya pasangan itu saja yg seneng, tapi orang lain yg tau pun ikutan seneng, ahh senang rasanya!!! So, how about you??? 

Dibawah pohon itu, aku melihatnya pertama kali..
Entah sudah berapa bulan berlalu semenjak pertemuan itu..
Satu yang pasti, tidak akan pernah kulupa wajah itu..
Wajah yg bisa membuatku nyaman hanya dengan melihatnya saja..
Demm, aku terkena “Love under the Tree-syndrome”!!!
Since that day, I just wanna say “I Love You [Full]” to her..
Yang ku mau, “Cinta itu bertepuk tangan”, that’s enough!!

*Disadur tulus dari dalam hati, dengan sedikit penyesuain bahasa menurut Ejaan Yang Disempurnakan, wkwkwkwk….

..seakan hidup ini tak ada artinya lagi..

Posted in The Journey with tags , on July 27, 2009 by abah

Banyak sekali yang telah kualami beberapa minggu terakhir ini, masih berkutat dengan kesibukan kantor yang segunung, membuat jari-jari ini seakan mati rasa, pikiran buntu, kepala cekot-cekot, badan pegel-pegel, hingga tak sempat rasanya hanya untuk sekedar menulisakannya lewat kata-kata. Harus berpindah hotel sampe 4 kali dalam seminggu cukup membuat tingkat stress dalam darah meningkat tajam.

Alih-alih bisa tidur nyenyak, akhir-akhir ini malah insomnia yang melanda, gulang-guling kesana kemari tanpa bisa masuk ke alam mimpi yang nyaman. Sekalinya mimpi, eh mimpinya keseret banjir, seeet daaahhh horor banget mimpi gw deh, haha….

Layaknya seorang kepala negara yang memikirkan rakyatnya yang sedang kelaparan, mungkin begitu juga kali yah yang aku alami. Tiba-tiba banyak sekali masalah yang membebani pikiran ini, dari yang penting sampai yang ga penting tumplek blek jadi satu. Gak enah ah rasanyaaaa, huffff……

Hari minggu ini pun seakan begitu cepat berlalu, itu artinya besok sudah hari senin lagi, setumpuk pekerjaan pun siap menanti, dan segudang masalah-pun seakan siap mengisi celah-celah sempit di otak ini, berteriak satu-persatu untuk minta diselesaikan dengan segera.

Tak terasa kumandang adzan magrib di sore ini telah terdengar, segera kubasuh wajah ini untuk segera menghadap-Nya. Yang kutahu hanya satu, hanya kepada-Nya lah semua masalah ini bisa teratasi. Duh Gusti, maafkan segala dosa hambamu ini….

Selesai sholat magrib dan berlanjut isya’, kusempatkan kaki ini untuk melangkah keluar kamar untuk hanya sekedar mencari makan malam buat pengganjal perut sampe fajar esok hari terbit. Dengan berjalan kaki selama 10 menit, sampailah aku di warung nasi goreng langgananku. Setelah memesan makanan yang aku inginkan aku langsung duduk di salah satu kursi yang telah disediakan si abang. Alhamdulillah jualan si abang laku banget sore ini, banyak yang antri menunggu pesanan mereka masing-masing.

Sambil menunggu pesananku dibuat oleh si abang, aku perhatikan sekeliling tempatku duduk, berharap mendapat satu pelajaran berharga yang dapat kupetik di sore menjelang malam ini. Kuperhatikan tepat di seberang jalan sana, terdapat sebuah restoran mewah yang baru saja dibuka, pelanggannya-pun datang silih berganti dengan menggunakan mobil mewah, sangat jauh berbeda dengan warung tempatku duduk sekarang, dimana pembelinya rata-rata pejalan kaki, atau sopir bus dan bajaj yang kebetulan melintas didepan warung ini. Walaupun sangat berbeda jauh, keduanya sama-sama mempunyai rejeki sendiri-sendiri dan tidak bakal tertukar satu sama lain. “Tuhan memang Adil”, gumamku dalam hati.

Terkadang kita berpikir, masalah kita sudahlah yang paling berat, tapi seberat apapun masalah kita, tetap masih ada orang yang mempunyai masalah lebih berat dan lebih besar daripada kita. Mereka tetap optimis, mereka tetap menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur, karena mereka yakin pertolongan Allah jauuuuh lebih besar dari masalah yang mereka hadapi.

Ya Allah,
Kami mohon sesatkanlah kami ke jalan yang Engkau Ridhoi..
Cukup sesat, sehingga kami tidak bisa lagi menemukan jalan menuju murka-Mu..

Duh Gusti,
Terima kasih atas semua kesulitan dan masalah yang telah Panjenengan anugrahkan kepada kami..
Karena kami yakin Panjenengan Maha Tahu atas apa yang terbaik bagi kami…

Ah, sungguh nikmat bisa mengucap syukur seperti ini…

D’Masiv – Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Back to Reff 1

Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa

Big Playgroup

Posted in Bincang Bebas, The Journey with tags , on July 3, 2009 by abah

Diundang seorang teman untuk ikut hadir dalam suatu acara di salah satu Stasiun TV swasta kira-kira sebulan yang lalu, meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam benak ini. Bagaimana tidak, studio yang penuh sesak dengan penonton secara serta merta berubah menjadi Play Group yang beranggotakan anak-anak diatas umur. Di studio yang tidak begitu besar itu, seisi ruangan seakan tersihir dan begitu patuh pada satu komando. Dialah sang Floor Director (FD) yang membuat semua itu terjadi. Mulai dari anak-anak sampai pimpinan perusahaan baik disadari atau tidak selalu mengikuti semua arahan dari sang FD, mulai dari berdiri, bernyanyi, sampai tepuk tangan bersama-pun dilakukan penonton di studio tanpa ada rasa canggung.

Walau disiarkan secara Live, si FD begitu tenang dan santainya menjalankan apa yang menjadi tugasnya. Mungkin karena sudah sering dan berpengalaman dalam mengatur orang, acara di malam itu berjalan nyaris tanpa kendala. Setiap perpindahan dari segmen ke segmen terasa begitu lancar dan penontonpun menikmati setiap detil acaranya (setidaknya dari pandangan saya). Sesekali canda dari FD menjadi hiburan tesendiri bagi penonton yang hadir di studio, mulai dari candaan yang ga penting sampai candaan yang [lebih] ga penting lagi selalu terlontar ketika iklan sedang tampil di televisi.

Kalau ditilik secara lebih mendalam, beberapa dari kita sering tergabung dalam panitia kecil, minimal di lingkungan keluarga kita sendiri, walau cuma sekedar panitia Arisan Keluarga. Sama seperti sang FD diatas, dia adalah satu diantara banyak panitia yang bertanggung jawab penuh terhadap suatu acara. Kerja sama tim yang solid, susunan acara yang bagus, dana yang cukup, dibarengi dengan jobdesk yang jelas, serta ditunjang alat komunikasi dan sarana prasarana yang memadai membuat semua hal diatas bisa terlaksana dengan baik.

Pernah [dan sering] penulis dihadapkan pada kondisi minimal, dimana suatu acara yang harusnya dikerjakan banyak orang, harus dikerjakan beberapa gelintir orang saja. Mulai dari menjadi seksi acara, seksi perlengkapan, sekaligus merangkap sebagai seksi konsumsi. Kata seorang teman, “Siksa aja gue sekalian!!!” disertai pandangan matanya yang tajam, mengiris, menusuk, sekaligus menghujam jiwa!! (wahahaha, Lebaiii…). Tetapi terlepas dari itu semua, positifnya kita menjadi lebih tahu akan banyak hal, karena mau tidak mau kita telah mengalaminya sendiri, walau tidak dapat dipungkiri terjadi banyak kekurangan disana-sini, tetapi secara keseluruhan acara berjalan cukup lancar.

Teringat pesan dari salah satu pegawai disini,
“Kalau kerja disini, semua kerjaan harus bisa, dari mulai yang menggunakan otak sampai dengan yang menggunakan otot!”.

Heuuum..kalau kata gue siihh, “Oke Coooyyy” hehehhe… []

Meet People!!!

Posted in Bincang Bebas, The Journey with tags , , , , on June 30, 2009 by abah

Harus melakukan perjalanan dari kota ke kota memaksa tubuh ini selalu bertemu dengan hal-hal yang baru. Mulai dari bertemu dengan orang-orang yang baru serta logat bahasa yang berbeda, keadaan cuaca yang agak sedikit berbeda dengan di Jakarta, dan tentunya makanan khas yang berbeda pula. Hal-hal yang unik, inspiratif, dan terkadang lucu menjadi ilmu baru yang membuat pikiran ini kembali segar ditengah-tengah tuntutan pekerjaan yang seakan tiada henti membebani fikiran dan badan ini.

Gorontalo, kota yang terletak di Sulawesi ini mengenalkanku pada sosok Pak Haji, seorang yang begitu santun dan penuh semangat. Beliau adalah mantan penyuluh program KB di jaman Pak Harto dulu. Tempat tinggalnya yang cukup jauh dari lokasi acara tak meruntuhkan niatnya untuk datang menghadiri acara yang kami laksanakan. Menurut panitia daerah yang bersama kami, si Bapak ini berangkat paling tidak sekitar pukul 5 pagi dari rumahnya, harus berganti angkutan minimal dua kali, dan memerlukan biaya setidaknya Rp. 75.000,- (–seingat saya, perjalanan dari Bandung-Solo bisa ditempuh dengan hanya Rp. 70.000,- saja). Dari beliau aku tahu bahwa daerah tempat tinggal beliau belum dialiri listrik, dan beliau pun belum mampu mengoperasikan Komputer, tapi anehnya beliau sudah punya Laptop!!!

Palangka Raya, produk andalan di kota ini adalah Ikan Patin, Rotan, dan Batu-batuan mulia. Daerah yang terletak di Kalimantan Tengah ini cukup ditempuh satu jam saja dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Walau sama-sama terletak di Kalimantan dan sama-sama mempunyai Bandar Udara, perjalanan dari Palangka Raya menuju Pontianak via udara tidak bisa dilakukan secara langsung. Bagi yang ingin melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara harus singgah ke Jakarta dahulu baru setelah itu melanjutkan penerbangan ke Pontianak. Dan apa yang aku temukan di Palangka Raya tak pernah terbersit sedikitpun di pikiran ini sebelumnya. Di Jawa, kita sering memakan Rebung, disini saya memakan Sup Rotan!!!

Kediri, untuk menuju ke kota di Jawa Timur ini, kita harus menggunakan angkutan darat, karena tidak ada bandara di kota ini. Setidaknya 4 jam dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari Bandara Juanda Surabaya menuju kota ini. Dari sopir travel yang mengantarkan kami ke Kediri, aku tahu bahwa Pabrik Gudang Garam di kota ini mempunyai luas lahan hampir seperempat dari luas Kota Kediri itu sendiri. Dia berkata, kalau tidak ada pabrik ini mungkin Kediri akan menjadi kota yang sepi, dan yang tak kalah mengejutkan, di pabrik ini tidak pernah terjadi demo seperti di pabrik-pabrik lain, hal ini dikarenakan kesejahteraan karyawan pabrik sangat diperhatikan. Untuk diketahui, seorang Driver saja dapat mendapatkan THR setidaknya Rp. 10.000.000,- dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tapi hal itu masih belum mengejutkan dibandingkan seorang Bapak yang membahasa-inggriskan ‘Telur Ayam’ menjadi ‘Egg Chiken’!!!
.
.
Can’t wait for the next Journey, new People, and new Advanture… :D

dan si ‘Anak Ayam’-pun harus kehilangan [lagi]..

Posted in Bincang Bebas, Cerita Pendek, The Journey with tags , on June 22, 2009 by abah

[Tidak] Seperti kata pepatah, “Bagai anak ayam ditinggal induknya”, si ‘anak ayam’ yang satu ini terlihat lebih tegar tatkala harus ditinggal oleh seseorang yang sangat disayanginya. Berat memang apa yang harus dialaminya sehari kemaren, tetapi sorot matanya mengatakan bahwa dia harus kuat, dia harus sabar, dan yang terpenting dia harus ikhlas. Kejadian ini bukan kali pertama menimpanya, beberapa tahun silam-pun dia pernah merasakan hal yang sama, kehilangan salah satu orang terkasih..

“Dan yang menjadi juaranyaaa adalaah ‘Anak Ayam’, horeeee..” Plok..plok..plok…
Sebuah kalung berhiaskan dua buah roti beserta satu kado berisikan boneka anak ayam-pun berhasil Ia sabet dengan sukses. Dan suara riuh tepuk tangan-pun sekali lagi bergema di ruang nan sempit itu.. :)

Suasana dua hari yang lalu itu serasa begitu jauh berbeda dengan suasana keesokan paginya, canda tawa di sore itu berganti dengan derai air mata penuh duka. Hati ini seakan ikut merasakan bagaimana kelabunya pagi itu, ya Allah ampunilah dosa-dosa beliau, berikan beliau tempat yang layak disisi-Mu, dan bagi keluarga yang ditinggalkan berikan ketabahan serta keikhlasan dalam menghadapi ini semua.

Satu hal yang paling pasti di dunia ini adalah kematian, kita tak pernah tahu kapan sang malaikat maut akan mencabut nyawa kita, kita hanya dan harus ‘cukup siap’ saja dalam menghadapainya. Pertanyaannya, apakah sekarang kita sudah ‘cukup siap’??

Yang sabar ya nak.. Kita akan selalu disampingmu, menemanimu, berbagi sedih dan tawa ini…

When youre feeling sad and low
We will take you where you gotta go
Smiling, dancing, everything is free
All you need is positivity..

Just Spice up Your Life!!!!

Dunia Raka

Posted in Cerita Pendek, The Journey on June 17, 2009 by abah

Tepat pukul 01.07 mata Raka terbangun, gemericik riuh tetesan air hujan diluar seakan mengingatkannya bahwa sholat isya’ malam ini belum Ia tunaikan. Langsung Ia tenggak minuman dalam botol di atas meja, agar matanya bisa sempurna terbuka. 5 teguk air tersebut ternyata belum sepenuhnya membuatnya terjaga, dan terpaksa perjalanannya ke kamar mandi ditempuh dengan keadaan setengah sadar. Basuhan air di kedua telapak tangannya menjadi pertanda prosesi wudhu telah dimulai, dinginnya air malam itu seakan menjadi obat pengusir tidur paling mujarab sedunia.

20 menit berlalu, dan sholat isya’ pun telah selesai Raka tunaikan sekaligus doa untuk kedua orang tuanya, doa bagi orang-orang terdekat dan sahabat, doa untuk guru-guru yang telah berjasa dalam hidupnya, serta doa bagi pemimpin-pemimpin negeri ini agar negeri ini bisa kembali menjadi negeri yang makmur dan sejahtera, tak lupa doa bagi orang-orang yang lemah dan tertindas ia panjatkan kepada yang Maha Kuasa, dan terakhir doa bagi dirinya sendiri agar diberikan kekuatan, keihlasan, serta kelapangan hati dalam menjalani hidup ini.

Kesibukan Raka di kantor sehari tadi memang cukup menguras tenaganya, sehingga sehabis sholat magrib dan makan malam tadi tubuhnya langsung melekat erat dengan kasur kecil di salah satu sudut kamar kost tempat dia tinggal. Disamping urusan kantor yang sebegitu banyaknya, pikirannya juga terbagi untuk membantu sahabatnya yang sedang tertimpa kesulitan. Namanya Maemunah, usianya yang 4 tahun lebih dewasa daripada Raka tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk dekat. Mereka bersahabat karena dulu pernah satu manajemen, sekarang Raka telah berpindah kantor, sehingga komunikasi diantara mereka hanya berlangsung melalui chating, SMS, dan telepon.

Lagi-lagi masalah Cinta dan Hati, itulah yang dialami Maemunah. Tepat satu hari sebelum malam ini, Raka menelpon Maemunah, menanyakan kabar cintanya. Tangis Maemunah sempat pecah di tengah percakapan mereka, hal ini sudah cukup menandakan bahwa cukup berat bagi Maemunah untuk menghadapi semua yang dialaminya. Raka-pun sempat kebingungan bagaimana menghadapi reaksi Maemunah yang diluar dugaan, tapi secara perlahan-lahan Raka mencoba menenangkan Maemunah, dan di akhir percakapan itu Maemunah sudah cukup tenang, dan berusaha sabar dalam menghadapi masalah yang menimpanya.

Permasalah Maemunah sebenarnya hanya bisa diselesaikan dengan satu kata yaitu “Komunikasi”, tapi justru inilah hal terberat bagi Maemunah untuk melakukannya. Perbedaan karakter dan pola hidup yang cukup jauh antara mereka membuat Maemunah belum berani mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada orang yang disayanginya itu, dan Maemunah-pun hanya bisa menceritakan apa yang ada di salam hatinya kepada Ibunda tersayang, Raka, dan beberapa sahabat terdekatnya yang lain.

Maemunah mencoba bertahan sekuat hati, layaknya karang yang dihempas gelombang. Menyerahkan cinta tulus di dalam takdir, tapi sampai kapan harus menunggunnya?? Maemunah-pun belum tahu sampai kapan dia mampu dan kuat bertahan, tapi dia yakin semua kisah pasti ada akhir yg harus dilalui, dan semuanya akan indah pada waktunya.

.

.

Bersambuung..

Memory 6000

Posted in Bincang Bebas, Cerita Pendek, The Journey on May 8, 2009 by abah

“Aku pulang dulu yaa…”
“Oke, aku juga mau pulang lah..”
“Cici di jey..”
“Okeee, dikau Roma Irama yah..”
“Lho kok Rhoma Irama..”
“Daripada Cici di jey melulu, skali2 ganti Rhoma Irama donk,hehehe…”
“Ahahahah,orang gilaaa…. Udah ah,ga jadi pulang2 kita ntar…”
“Hihihih..ya udah lah… Camlikum….”
“Kumcalaaammm……”

Dengan berat kulangkahkan kaki ini keluar dari kantor yang sudah sepi penghuni, ough ternyata masih jauh perjalananku, masih sekitar seribu seratus tiga puluh tujuh langkah lagi untuk mencapai tempat tidurku nan empuk (Ceritanya sih ingin mensukseskan gerakan Anlene 1000 langkah per hari,hehehe…). Disepanjang jalan kulihat sebagian kecil gemerlap ibukota, kutemukan satu spot kecil yang cocok untuk diabadikan, “Suatu saat akan kubawa “dia” kesini ah..” pikirku dalam hati, wajah manis berpadu dengan gemerlap lampu dibelakangnya pasti akan menghasilkan potret yg luar biasa, ah senangnyaaa..

Kulanjutkan perjalananku dengan tetap pikiranku menembus ruang dan waktu, mencari ide-ide dan inspirasi dalam hidup ini –jiaaahhh bahasanya, dah berasa kek pujangga aja ini–. Kuterus berjalan melewati trotoar itu, sesekali kulihat orang yang sama denganku, baru pulang dikala malam, sekelompok wanita karier berjalan beriringan, sesekali keluar canda dan gelak tawa dari mulut mereka, ada juga yg sibuk dengan telepon selularnya, mungkin sedang ditelpon pacarnya kali…

Sambil terus mengamati detil demi detil kejadian yg terjadi di sepanjang jalan, kutetap langkahkan kaki ini, step by step, alon-alon waton klakon, gremat-gremet pokoke slamet, sengaja kaki ini melangkah slowly but sure karena udara malam ini begitu sejuk dan lembut, terpaan angin ke wajah seakan mengalahkan dinginnya AC di rumah, dan bisa menghapus [sejenak] polusi ibukota yang semakin dahsyat dari hari ke hari.

Kuhentikan langkah kakiku di sebuah warung “remang-remang”, tidak ada lampu yang menyala di warung tersebut, hanya sebuah lilin kecil yang menyala di sela-sela bumbu-bumbu dan nasi yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng. Ah, sewaktu aku datang lilinnya juga mati, alhasil sumber cahaya pun hanya didapat dari lampu jalan yg sedikit menerangi dari kejauhan ditambah dengan sorot mobil dan motor yang berlalu lalang di hadapannya.

“Bang, nasi goreng satu yah, yang asin..” –*kek mau pengen cepet kawin aja,hahaha…–

“Telornya?? Dipisah ma dicampur mas?”

“Dipisah aja bang, takutnya klo disatuin entar berantem ma nasinya..”, –*begitu candaku, hehehe…–

“Ah, si mas bisa aja….. Tunggu sebentar ya mas.” *sambil terkekeh dan langsung meracik bumbu buat nasi goreng pesananku…

Tak lama kemudian, datanglah pesananku, sepiring nasi goreng, dengan telur yang sudah dipisah tentunya, hehehe.. Mulailah kulahap apa yang sudah tersedia dihadapan saya, tinggal “Lheeep” kata Dedi Mizwar dalam salah satu iklannya. Deeeg, berhenti sejenak rahang ini mengunyah apa yang sudah ada di mulut, dan sekali lagi anganku menembus ruang dan waktu, kembali ke masa dimana aku berada di desa kecil di lereng gunung Lawu. Rasa itu serasa membuncah, menggeliat, dan menebarkan aroma khas masakan mBah Putri di kampung. Tangan beliau seakan belum kehilangan kesaktiannya dalam meracik masakan, pun hingga saat ini, beliau masih menyajikan masakan ala pedesaan yang rasanya begitu sedap, yang selalu dinantikan cucunya, bahkan anak-anaknya sekalipun.

Sayangnya teknik memasak beliau hanya diturunkan kepada budhe, sedangkan ibuku mempunyai teknik memasak yang berbeda. Setelah diusut lebih dalam, ternyata semasa kecil, ibu dan adik2nya yg berjumlah 5 orang dilarang masuk ke dapur. Sedikit kaget juga memang, dimasa seperti anak perempuan dilarang masuk kedapur. Ternyta alasannya cukup simple, karena takut makanan yang dimasak waktu itu tidak utuh lagi, maklum di kala itu kehidupan kakek dan nenek terbilang cukup sederhana, Kakek yang hanya seorang penjaga SD dan Nenek yang seorang pedagang di pasar hidupnya cukup pas-pas-an, ditambah dengan 6 orang anak yang menjadi buah hati mereka.

Hari ini tak terasa, memory itu kembali hadir di sela-sela kehidupanku di ibukota, dan ternyata harga sebuah memory itu cukup enam ribu rupiah saja,tidak mahal!!! Selesai membayar kepada si Abang, langkah kakiku menjadi bersemangat kembali, menyongsong hari esok yang lebih baik, semoga..

.
.
.
*Hari ini, semalam yang lalu…

Writing Tresno Jalaran Soko Kulino..

Posted in Bincang Bebas, Cerita Pendek, The Journey with tags , , , , , , on May 4, 2009 by abah

Berawal dari kondisi “Mati Gaya” pagi ini, jadilah terpikirkan bagaimana cara mencairkan otak yang sedang beku ini,hohoho… Setelah berkutat dan berpikir begitu lama (kek-nya emang akibat beku itu tadi sih,makanya lama,haha…), akhinya tercetuslah judul tersebut diatas!!
Sebagian besar orang pasti sudah tau darimana judul tersebut diplesetkan. Yaps benaaar, berawal dari falsafah orang jawa, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” yang berarti “Adanya Cinta karena Biasa”. Mungkin begitu juga kali ye untuk urusan tulis menulis, jadi suka menulis emang karena setiap hari otak kita dilatih untuk menulis,bukan buat bengong,haha…
Sekedar menulis bukan berarti menulis sekedarnya, kita harus mempunyai banyak informasi tentang apa yang mau kita tulis, dan membaca adalah salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan informasi. Tentu saja masih banyak hal yang bisa kita gunakan untuk bisa menghasilkan tulisan yang berbobot, dahsyat, fenomenal, terakreditasi, dan berimbang..(Lebaaaiii,haha..)..
Karena ketiadaan media informasi visual (baca -tipi). maka akhir-akhir ini perhatian saya banyak tercurahkan ke radio, selain media internet yang menjadi makanan pokok untuk mengetahui informasi setiap hari. Tepatnya couple weeks ago, saya mendengarkan Talk Show yang bertajuk, “Indonesia Strong from Home”, sebuah Konsep yang digagas oleh Ayah Edi (Parenting Consultant and Holistic Learning), sebuah konsep yang sederhana tapi luar biasa.. Berikut sedikit kutipan dari beliau :

Seandainya saja setiap orang tua di tanah air “mau” dan “mampu” mendidik anak-anaknya dengan baik di rumah, maka Indonesia akan menjadi kuat dengan sendirinya tanpa perlu konsep yang mahal, rumit dan berbelit-belit.

Mari kita Bangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga melalui anak-anak kita tercinta dirumah

Berharap tulisan ini bisa sedikit membantu meng-kampanye-kan konsep2 beliau dalam mendidik anak Indonesia secara baik dan benar, sehingga bangsa ini jg bisa bangkit seiring dengan semakin kacaunya dunia persilatan di era sekarang ini..

Nak, belajar dulu ama Bunda yah, Ayah cari duit dulu di kota… :)