“Aku pulang dulu yaa…”
“Oke, aku juga mau pulang lah..”
“Cici di jey..”
“Okeee, dikau Roma Irama yah..”
“Lho kok Rhoma Irama..”
“Daripada Cici di jey melulu, skali2 ganti Rhoma Irama donk,hehehe…”
“Ahahahah,orang gilaaa…. Udah ah,ga jadi pulang2 kita ntar…”
“Hihihih..ya udah lah… Camlikum….”
“Kumcalaaammm……”
Dengan berat kulangkahkan kaki ini keluar dari kantor yang sudah sepi penghuni, ough ternyata masih jauh perjalananku, masih sekitar seribu seratus tiga puluh tujuh langkah lagi untuk mencapai tempat tidurku nan empuk (Ceritanya sih ingin mensukseskan gerakan Anlene 1000 langkah per hari,hehehe…). Disepanjang jalan kulihat sebagian kecil gemerlap ibukota, kutemukan satu spot kecil yang cocok untuk diabadikan, “Suatu saat akan kubawa “dia” kesini ah..” pikirku dalam hati, wajah manis berpadu dengan gemerlap lampu dibelakangnya pasti akan menghasilkan potret yg luar biasa, ah senangnyaaa..
Kulanjutkan perjalananku dengan tetap pikiranku menembus ruang dan waktu, mencari ide-ide dan inspirasi dalam hidup ini –jiaaahhh bahasanya, dah berasa kek pujangga aja ini–. Kuterus berjalan melewati trotoar itu, sesekali kulihat orang yang sama denganku, baru pulang dikala malam, sekelompok wanita karier berjalan beriringan, sesekali keluar canda dan gelak tawa dari mulut mereka, ada juga yg sibuk dengan telepon selularnya, mungkin sedang ditelpon pacarnya kali…
Sambil terus mengamati detil demi detil kejadian yg terjadi di sepanjang jalan, kutetap langkahkan kaki ini, step by step, alon-alon waton klakon, gremat-gremet pokoke slamet, sengaja kaki ini melangkah slowly but sure karena udara malam ini begitu sejuk dan lembut, terpaan angin ke wajah seakan mengalahkan dinginnya AC di rumah, dan bisa menghapus [sejenak] polusi ibukota yang semakin dahsyat dari hari ke hari.
Kuhentikan langkah kakiku di sebuah warung “remang-remang”, tidak ada lampu yang menyala di warung tersebut, hanya sebuah lilin kecil yang menyala di sela-sela bumbu-bumbu dan nasi yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng. Ah, sewaktu aku datang lilinnya juga mati, alhasil sumber cahaya pun hanya didapat dari lampu jalan yg sedikit menerangi dari kejauhan ditambah dengan sorot mobil dan motor yang berlalu lalang di hadapannya.
“Bang, nasi goreng satu yah, yang asin..” –*kek mau pengen cepet kawin aja,hahaha…–
“Telornya?? Dipisah ma dicampur mas?”
“Dipisah aja bang, takutnya klo disatuin entar berantem ma nasinya..”, –*begitu candaku, hehehe…–
“Ah, si mas bisa aja….. Tunggu sebentar ya mas.” *sambil terkekeh dan langsung meracik bumbu buat nasi goreng pesananku…
Tak lama kemudian, datanglah pesananku, sepiring nasi goreng, dengan telur yang sudah dipisah tentunya, hehehe.. Mulailah kulahap apa yang sudah tersedia dihadapan saya, tinggal “Lheeep” kata Dedi Mizwar dalam salah satu iklannya. Deeeg, berhenti sejenak rahang ini mengunyah apa yang sudah ada di mulut, dan sekali lagi anganku menembus ruang dan waktu, kembali ke masa dimana aku berada di desa kecil di lereng gunung Lawu. Rasa itu serasa membuncah, menggeliat, dan menebarkan aroma khas masakan mBah Putri di kampung. Tangan beliau seakan belum kehilangan kesaktiannya dalam meracik masakan, pun hingga saat ini, beliau masih menyajikan masakan ala pedesaan yang rasanya begitu sedap, yang selalu dinantikan cucunya, bahkan anak-anaknya sekalipun.
Sayangnya teknik memasak beliau hanya diturunkan kepada budhe, sedangkan ibuku mempunyai teknik memasak yang berbeda. Setelah diusut lebih dalam, ternyata semasa kecil, ibu dan adik2nya yg berjumlah 5 orang dilarang masuk ke dapur. Sedikit kaget juga memang, dimasa seperti anak perempuan dilarang masuk kedapur. Ternyta alasannya cukup simple, karena takut makanan yang dimasak waktu itu tidak utuh lagi, maklum di kala itu kehidupan kakek dan nenek terbilang cukup sederhana, Kakek yang hanya seorang penjaga SD dan Nenek yang seorang pedagang di pasar hidupnya cukup pas-pas-an, ditambah dengan 6 orang anak yang menjadi buah hati mereka.
Hari ini tak terasa, memory itu kembali hadir di sela-sela kehidupanku di ibukota, dan ternyata harga sebuah memory itu cukup enam ribu rupiah saja,tidak mahal!!! Selesai membayar kepada si Abang, langkah kakiku menjadi bersemangat kembali, menyongsong hari esok yang lebih baik, semoga..
.
.
.
*Hari ini, semalam yang lalu…