Archive for July, 2009

..seakan hidup ini tak ada artinya lagi..

Posted in The Journey with tags , on July 27, 2009 by abah

Banyak sekali yang telah kualami beberapa minggu terakhir ini, masih berkutat dengan kesibukan kantor yang segunung, membuat jari-jari ini seakan mati rasa, pikiran buntu, kepala cekot-cekot, badan pegel-pegel, hingga tak sempat rasanya hanya untuk sekedar menulisakannya lewat kata-kata. Harus berpindah hotel sampe 4 kali dalam seminggu cukup membuat tingkat stress dalam darah meningkat tajam.

Alih-alih bisa tidur nyenyak, akhir-akhir ini malah insomnia yang melanda, gulang-guling kesana kemari tanpa bisa masuk ke alam mimpi yang nyaman. Sekalinya mimpi, eh mimpinya keseret banjir, seeet daaahhh horor banget mimpi gw deh, haha….

Layaknya seorang kepala negara yang memikirkan rakyatnya yang sedang kelaparan, mungkin begitu juga kali yah yang aku alami. Tiba-tiba banyak sekali masalah yang membebani pikiran ini, dari yang penting sampai yang ga penting tumplek blek jadi satu. Gak enah ah rasanyaaaa, huffff……

Hari minggu ini pun seakan begitu cepat berlalu, itu artinya besok sudah hari senin lagi, setumpuk pekerjaan pun siap menanti, dan segudang masalah-pun seakan siap mengisi celah-celah sempit di otak ini, berteriak satu-persatu untuk minta diselesaikan dengan segera.

Tak terasa kumandang adzan magrib di sore ini telah terdengar, segera kubasuh wajah ini untuk segera menghadap-Nya. Yang kutahu hanya satu, hanya kepada-Nya lah semua masalah ini bisa teratasi. Duh Gusti, maafkan segala dosa hambamu ini….

Selesai sholat magrib dan berlanjut isya’, kusempatkan kaki ini untuk melangkah keluar kamar untuk hanya sekedar mencari makan malam buat pengganjal perut sampe fajar esok hari terbit. Dengan berjalan kaki selama 10 menit, sampailah aku di warung nasi goreng langgananku. Setelah memesan makanan yang aku inginkan aku langsung duduk di salah satu kursi yang telah disediakan si abang. Alhamdulillah jualan si abang laku banget sore ini, banyak yang antri menunggu pesanan mereka masing-masing.

Sambil menunggu pesananku dibuat oleh si abang, aku perhatikan sekeliling tempatku duduk, berharap mendapat satu pelajaran berharga yang dapat kupetik di sore menjelang malam ini. Kuperhatikan tepat di seberang jalan sana, terdapat sebuah restoran mewah yang baru saja dibuka, pelanggannya-pun datang silih berganti dengan menggunakan mobil mewah, sangat jauh berbeda dengan warung tempatku duduk sekarang, dimana pembelinya rata-rata pejalan kaki, atau sopir bus dan bajaj yang kebetulan melintas didepan warung ini. Walaupun sangat berbeda jauh, keduanya sama-sama mempunyai rejeki sendiri-sendiri dan tidak bakal tertukar satu sama lain. “Tuhan memang Adil”, gumamku dalam hati.

Terkadang kita berpikir, masalah kita sudahlah yang paling berat, tapi seberat apapun masalah kita, tetap masih ada orang yang mempunyai masalah lebih berat dan lebih besar daripada kita. Mereka tetap optimis, mereka tetap menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur, karena mereka yakin pertolongan Allah jauuuuh lebih besar dari masalah yang mereka hadapi.

Ya Allah,
Kami mohon sesatkanlah kami ke jalan yang Engkau Ridhoi..
Cukup sesat, sehingga kami tidak bisa lagi menemukan jalan menuju murka-Mu..

Duh Gusti,
Terima kasih atas semua kesulitan dan masalah yang telah Panjenengan anugrahkan kepada kami..
Karena kami yakin Panjenengan Maha Tahu atas apa yang terbaik bagi kami…

Ah, sungguh nikmat bisa mengucap syukur seperti ini…

D’Masiv – Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Back to Reff 1

Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa

Big Playgroup

Posted in Bincang Bebas, The Journey with tags , on July 3, 2009 by abah

Diundang seorang teman untuk ikut hadir dalam suatu acara di salah satu Stasiun TV swasta kira-kira sebulan yang lalu, meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam benak ini. Bagaimana tidak, studio yang penuh sesak dengan penonton secara serta merta berubah menjadi Play Group yang beranggotakan anak-anak diatas umur. Di studio yang tidak begitu besar itu, seisi ruangan seakan tersihir dan begitu patuh pada satu komando. Dialah sang Floor Director (FD) yang membuat semua itu terjadi. Mulai dari anak-anak sampai pimpinan perusahaan baik disadari atau tidak selalu mengikuti semua arahan dari sang FD, mulai dari berdiri, bernyanyi, sampai tepuk tangan bersama-pun dilakukan penonton di studio tanpa ada rasa canggung.

Walau disiarkan secara Live, si FD begitu tenang dan santainya menjalankan apa yang menjadi tugasnya. Mungkin karena sudah sering dan berpengalaman dalam mengatur orang, acara di malam itu berjalan nyaris tanpa kendala. Setiap perpindahan dari segmen ke segmen terasa begitu lancar dan penontonpun menikmati setiap detil acaranya (setidaknya dari pandangan saya). Sesekali canda dari FD menjadi hiburan tesendiri bagi penonton yang hadir di studio, mulai dari candaan yang ga penting sampai candaan yang [lebih] ga penting lagi selalu terlontar ketika iklan sedang tampil di televisi.

Kalau ditilik secara lebih mendalam, beberapa dari kita sering tergabung dalam panitia kecil, minimal di lingkungan keluarga kita sendiri, walau cuma sekedar panitia Arisan Keluarga. Sama seperti sang FD diatas, dia adalah satu diantara banyak panitia yang bertanggung jawab penuh terhadap suatu acara. Kerja sama tim yang solid, susunan acara yang bagus, dana yang cukup, dibarengi dengan jobdesk yang jelas, serta ditunjang alat komunikasi dan sarana prasarana yang memadai membuat semua hal diatas bisa terlaksana dengan baik.

Pernah [dan sering] penulis dihadapkan pada kondisi minimal, dimana suatu acara yang harusnya dikerjakan banyak orang, harus dikerjakan beberapa gelintir orang saja. Mulai dari menjadi seksi acara, seksi perlengkapan, sekaligus merangkap sebagai seksi konsumsi. Kata seorang teman, “Siksa aja gue sekalian!!!” disertai pandangan matanya yang tajam, mengiris, menusuk, sekaligus menghujam jiwa!! (wahahaha, Lebaiii…). Tetapi terlepas dari itu semua, positifnya kita menjadi lebih tahu akan banyak hal, karena mau tidak mau kita telah mengalaminya sendiri, walau tidak dapat dipungkiri terjadi banyak kekurangan disana-sini, tetapi secara keseluruhan acara berjalan cukup lancar.

Teringat pesan dari salah satu pegawai disini,
“Kalau kerja disini, semua kerjaan harus bisa, dari mulai yang menggunakan otak sampai dengan yang menggunakan otot!”.

Heuuum..kalau kata gue siihh, “Oke Coooyyy” hehehhe… []