Dunia Raka
Tepat pukul 01.07 mata Raka terbangun, gemericik riuh tetesan air hujan diluar seakan mengingatkannya bahwa sholat isya’ malam ini belum Ia tunaikan. Langsung Ia tenggak minuman dalam botol di atas meja, agar matanya bisa sempurna terbuka. 5 teguk air tersebut ternyata belum sepenuhnya membuatnya terjaga, dan terpaksa perjalanannya ke kamar mandi ditempuh dengan keadaan setengah sadar. Basuhan air di kedua telapak tangannya menjadi pertanda prosesi wudhu telah dimulai, dinginnya air malam itu seakan menjadi obat pengusir tidur paling mujarab sedunia.
20 menit berlalu, dan sholat isya’ pun telah selesai Raka tunaikan sekaligus doa untuk kedua orang tuanya, doa bagi orang-orang terdekat dan sahabat, doa untuk guru-guru yang telah berjasa dalam hidupnya, serta doa bagi pemimpin-pemimpin negeri ini agar negeri ini bisa kembali menjadi negeri yang makmur dan sejahtera, tak lupa doa bagi orang-orang yang lemah dan tertindas ia panjatkan kepada yang Maha Kuasa, dan terakhir doa bagi dirinya sendiri agar diberikan kekuatan, keihlasan, serta kelapangan hati dalam menjalani hidup ini.
Kesibukan Raka di kantor sehari tadi memang cukup menguras tenaganya, sehingga sehabis sholat magrib dan makan malam tadi tubuhnya langsung melekat erat dengan kasur kecil di salah satu sudut kamar kost tempat dia tinggal. Disamping urusan kantor yang sebegitu banyaknya, pikirannya juga terbagi untuk membantu sahabatnya yang sedang tertimpa kesulitan. Namanya Maemunah, usianya yang 4 tahun lebih dewasa daripada Raka tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk dekat. Mereka bersahabat karena dulu pernah satu manajemen, sekarang Raka telah berpindah kantor, sehingga komunikasi diantara mereka hanya berlangsung melalui chating, SMS, dan telepon.
Lagi-lagi masalah Cinta dan Hati, itulah yang dialami Maemunah. Tepat satu hari sebelum malam ini, Raka menelpon Maemunah, menanyakan kabar cintanya. Tangis Maemunah sempat pecah di tengah percakapan mereka, hal ini sudah cukup menandakan bahwa cukup berat bagi Maemunah untuk menghadapi semua yang dialaminya. Raka-pun sempat kebingungan bagaimana menghadapi reaksi Maemunah yang diluar dugaan, tapi secara perlahan-lahan Raka mencoba menenangkan Maemunah, dan di akhir percakapan itu Maemunah sudah cukup tenang, dan berusaha sabar dalam menghadapi masalah yang menimpanya.
Permasalah Maemunah sebenarnya hanya bisa diselesaikan dengan satu kata yaitu “Komunikasi”, tapi justru inilah hal terberat bagi Maemunah untuk melakukannya. Perbedaan karakter dan pola hidup yang cukup jauh antara mereka membuat Maemunah belum berani mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada orang yang disayanginya itu, dan Maemunah-pun hanya bisa menceritakan apa yang ada di salam hatinya kepada Ibunda tersayang, Raka, dan beberapa sahabat terdekatnya yang lain.
Maemunah mencoba bertahan sekuat hati, layaknya karang yang dihempas gelombang. Menyerahkan cinta tulus di dalam takdir, tapi sampai kapan harus menunggunnya?? Maemunah-pun belum tahu sampai kapan dia mampu dan kuat bertahan, tapi dia yakin semua kisah pasti ada akhir yg harus dilalui, dan semuanya akan indah pada waktunya.
.
.
Bersambuung..
June 18, 2009 at 3:13 am
Hmmm sampe berapa episod ?
June 18, 2009 at 3:52 am
sampe episot yg blm ditentukan,hahaha…