Harus melakukan perjalanan dari kota ke kota memaksa tubuh ini selalu bertemu dengan hal-hal yang baru. Mulai dari bertemu dengan orang-orang yang baru serta logat bahasa yang berbeda, keadaan cuaca yang agak sedikit berbeda dengan di Jakarta, dan tentunya makanan khas yang berbeda pula. Hal-hal yang unik, inspiratif, dan terkadang lucu menjadi ilmu baru yang membuat pikiran ini kembali segar ditengah-tengah tuntutan pekerjaan yang seakan tiada henti membebani fikiran dan badan ini.
Gorontalo, kota yang terletak di Sulawesi ini mengenalkanku pada sosok Pak Haji, seorang yang begitu santun dan penuh semangat. Beliau adalah mantan penyuluh program KB di jaman Pak Harto dulu. Tempat tinggalnya yang cukup jauh dari lokasi acara tak meruntuhkan niatnya untuk datang menghadiri acara yang kami laksanakan. Menurut panitia daerah yang bersama kami, si Bapak ini berangkat paling tidak sekitar pukul 5 pagi dari rumahnya, harus berganti angkutan minimal dua kali, dan memerlukan biaya setidaknya Rp. 75.000,- (–seingat saya, perjalanan dari Bandung-Solo bisa ditempuh dengan hanya Rp. 70.000,- saja). Dari beliau aku tahu bahwa daerah tempat tinggal beliau belum dialiri listrik, dan beliau pun belum mampu mengoperasikan Komputer, tapi anehnya beliau sudah punya Laptop!!!
Palangka Raya, produk andalan di kota ini adalah Ikan Patin, Rotan, dan Batu-batuan mulia. Daerah yang terletak di Kalimantan Tengah ini cukup ditempuh satu jam saja dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Walau sama-sama terletak di Kalimantan dan sama-sama mempunyai Bandar Udara, perjalanan dari Palangka Raya menuju Pontianak via udara tidak bisa dilakukan secara langsung. Bagi yang ingin melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara harus singgah ke Jakarta dahulu baru setelah itu melanjutkan penerbangan ke Pontianak. Dan apa yang aku temukan di Palangka Raya tak pernah terbersit sedikitpun di pikiran ini sebelumnya. Di Jawa, kita sering memakan Rebung, disini saya memakan Sup Rotan!!!
Kediri, untuk menuju ke kota di Jawa Timur ini, kita harus menggunakan angkutan darat, karena tidak ada bandara di kota ini. Setidaknya 4 jam dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari Bandara Juanda Surabaya menuju kota ini. Dari sopir travel yang mengantarkan kami ke Kediri, aku tahu bahwa Pabrik Gudang Garam di kota ini mempunyai luas lahan hampir seperempat dari luas Kota Kediri itu sendiri. Dia berkata, kalau tidak ada pabrik ini mungkin Kediri akan menjadi kota yang sepi, dan yang tak kalah mengejutkan, di pabrik ini tidak pernah terjadi demo seperti di pabrik-pabrik lain, hal ini dikarenakan kesejahteraan karyawan pabrik sangat diperhatikan. Untuk diketahui, seorang Driver saja dapat mendapatkan THR setidaknya Rp. 10.000.000,- dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tapi hal itu masih belum mengejutkan dibandingkan seorang Bapak yang membahasa-inggriskan ‘Telur Ayam’ menjadi ‘Egg Chiken’!!!
.
.
Can’t wait for the next Journey, new People, and new Advanture…






