Archive for June, 2009

Meet People!!!

Posted in Bincang Bebas, The Journey with tags , , , , on June 30, 2009 by abah

Harus melakukan perjalanan dari kota ke kota memaksa tubuh ini selalu bertemu dengan hal-hal yang baru. Mulai dari bertemu dengan orang-orang yang baru serta logat bahasa yang berbeda, keadaan cuaca yang agak sedikit berbeda dengan di Jakarta, dan tentunya makanan khas yang berbeda pula. Hal-hal yang unik, inspiratif, dan terkadang lucu menjadi ilmu baru yang membuat pikiran ini kembali segar ditengah-tengah tuntutan pekerjaan yang seakan tiada henti membebani fikiran dan badan ini.

Gorontalo, kota yang terletak di Sulawesi ini mengenalkanku pada sosok Pak Haji, seorang yang begitu santun dan penuh semangat. Beliau adalah mantan penyuluh program KB di jaman Pak Harto dulu. Tempat tinggalnya yang cukup jauh dari lokasi acara tak meruntuhkan niatnya untuk datang menghadiri acara yang kami laksanakan. Menurut panitia daerah yang bersama kami, si Bapak ini berangkat paling tidak sekitar pukul 5 pagi dari rumahnya, harus berganti angkutan minimal dua kali, dan memerlukan biaya setidaknya Rp. 75.000,- (–seingat saya, perjalanan dari Bandung-Solo bisa ditempuh dengan hanya Rp. 70.000,- saja). Dari beliau aku tahu bahwa daerah tempat tinggal beliau belum dialiri listrik, dan beliau pun belum mampu mengoperasikan Komputer, tapi anehnya beliau sudah punya Laptop!!!

Palangka Raya, produk andalan di kota ini adalah Ikan Patin, Rotan, dan Batu-batuan mulia. Daerah yang terletak di Kalimantan Tengah ini cukup ditempuh satu jam saja dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Walau sama-sama terletak di Kalimantan dan sama-sama mempunyai Bandar Udara, perjalanan dari Palangka Raya menuju Pontianak via udara tidak bisa dilakukan secara langsung. Bagi yang ingin melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara harus singgah ke Jakarta dahulu baru setelah itu melanjutkan penerbangan ke Pontianak. Dan apa yang aku temukan di Palangka Raya tak pernah terbersit sedikitpun di pikiran ini sebelumnya. Di Jawa, kita sering memakan Rebung, disini saya memakan Sup Rotan!!!

Kediri, untuk menuju ke kota di Jawa Timur ini, kita harus menggunakan angkutan darat, karena tidak ada bandara di kota ini. Setidaknya 4 jam dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari Bandara Juanda Surabaya menuju kota ini. Dari sopir travel yang mengantarkan kami ke Kediri, aku tahu bahwa Pabrik Gudang Garam di kota ini mempunyai luas lahan hampir seperempat dari luas Kota Kediri itu sendiri. Dia berkata, kalau tidak ada pabrik ini mungkin Kediri akan menjadi kota yang sepi, dan yang tak kalah mengejutkan, di pabrik ini tidak pernah terjadi demo seperti di pabrik-pabrik lain, hal ini dikarenakan kesejahteraan karyawan pabrik sangat diperhatikan. Untuk diketahui, seorang Driver saja dapat mendapatkan THR setidaknya Rp. 10.000.000,- dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tapi hal itu masih belum mengejutkan dibandingkan seorang Bapak yang membahasa-inggriskan ‘Telur Ayam’ menjadi ‘Egg Chiken’!!!
.
.
Can’t wait for the next Journey, new People, and new Advanture… :D

dan si ‘Anak Ayam’-pun harus kehilangan [lagi]..

Posted in Bincang Bebas, Cerita Pendek, The Journey with tags , on June 22, 2009 by abah

[Tidak] Seperti kata pepatah, “Bagai anak ayam ditinggal induknya”, si ‘anak ayam’ yang satu ini terlihat lebih tegar tatkala harus ditinggal oleh seseorang yang sangat disayanginya. Berat memang apa yang harus dialaminya sehari kemaren, tetapi sorot matanya mengatakan bahwa dia harus kuat, dia harus sabar, dan yang terpenting dia harus ikhlas. Kejadian ini bukan kali pertama menimpanya, beberapa tahun silam-pun dia pernah merasakan hal yang sama, kehilangan salah satu orang terkasih..

“Dan yang menjadi juaranyaaa adalaah ‘Anak Ayam’, horeeee..” Plok..plok..plok…
Sebuah kalung berhiaskan dua buah roti beserta satu kado berisikan boneka anak ayam-pun berhasil Ia sabet dengan sukses. Dan suara riuh tepuk tangan-pun sekali lagi bergema di ruang nan sempit itu.. :)

Suasana dua hari yang lalu itu serasa begitu jauh berbeda dengan suasana keesokan paginya, canda tawa di sore itu berganti dengan derai air mata penuh duka. Hati ini seakan ikut merasakan bagaimana kelabunya pagi itu, ya Allah ampunilah dosa-dosa beliau, berikan beliau tempat yang layak disisi-Mu, dan bagi keluarga yang ditinggalkan berikan ketabahan serta keikhlasan dalam menghadapi ini semua.

Satu hal yang paling pasti di dunia ini adalah kematian, kita tak pernah tahu kapan sang malaikat maut akan mencabut nyawa kita, kita hanya dan harus ‘cukup siap’ saja dalam menghadapainya. Pertanyaannya, apakah sekarang kita sudah ‘cukup siap’??

Yang sabar ya nak.. Kita akan selalu disampingmu, menemanimu, berbagi sedih dan tawa ini…

When youre feeling sad and low
We will take you where you gotta go
Smiling, dancing, everything is free
All you need is positivity..

Just Spice up Your Life!!!!

Dunia Raka

Posted in Cerita Pendek, The Journey on June 17, 2009 by abah

Tepat pukul 01.07 mata Raka terbangun, gemericik riuh tetesan air hujan diluar seakan mengingatkannya bahwa sholat isya’ malam ini belum Ia tunaikan. Langsung Ia tenggak minuman dalam botol di atas meja, agar matanya bisa sempurna terbuka. 5 teguk air tersebut ternyata belum sepenuhnya membuatnya terjaga, dan terpaksa perjalanannya ke kamar mandi ditempuh dengan keadaan setengah sadar. Basuhan air di kedua telapak tangannya menjadi pertanda prosesi wudhu telah dimulai, dinginnya air malam itu seakan menjadi obat pengusir tidur paling mujarab sedunia.

20 menit berlalu, dan sholat isya’ pun telah selesai Raka tunaikan sekaligus doa untuk kedua orang tuanya, doa bagi orang-orang terdekat dan sahabat, doa untuk guru-guru yang telah berjasa dalam hidupnya, serta doa bagi pemimpin-pemimpin negeri ini agar negeri ini bisa kembali menjadi negeri yang makmur dan sejahtera, tak lupa doa bagi orang-orang yang lemah dan tertindas ia panjatkan kepada yang Maha Kuasa, dan terakhir doa bagi dirinya sendiri agar diberikan kekuatan, keihlasan, serta kelapangan hati dalam menjalani hidup ini.

Kesibukan Raka di kantor sehari tadi memang cukup menguras tenaganya, sehingga sehabis sholat magrib dan makan malam tadi tubuhnya langsung melekat erat dengan kasur kecil di salah satu sudut kamar kost tempat dia tinggal. Disamping urusan kantor yang sebegitu banyaknya, pikirannya juga terbagi untuk membantu sahabatnya yang sedang tertimpa kesulitan. Namanya Maemunah, usianya yang 4 tahun lebih dewasa daripada Raka tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk dekat. Mereka bersahabat karena dulu pernah satu manajemen, sekarang Raka telah berpindah kantor, sehingga komunikasi diantara mereka hanya berlangsung melalui chating, SMS, dan telepon.

Lagi-lagi masalah Cinta dan Hati, itulah yang dialami Maemunah. Tepat satu hari sebelum malam ini, Raka menelpon Maemunah, menanyakan kabar cintanya. Tangis Maemunah sempat pecah di tengah percakapan mereka, hal ini sudah cukup menandakan bahwa cukup berat bagi Maemunah untuk menghadapi semua yang dialaminya. Raka-pun sempat kebingungan bagaimana menghadapi reaksi Maemunah yang diluar dugaan, tapi secara perlahan-lahan Raka mencoba menenangkan Maemunah, dan di akhir percakapan itu Maemunah sudah cukup tenang, dan berusaha sabar dalam menghadapi masalah yang menimpanya.

Permasalah Maemunah sebenarnya hanya bisa diselesaikan dengan satu kata yaitu “Komunikasi”, tapi justru inilah hal terberat bagi Maemunah untuk melakukannya. Perbedaan karakter dan pola hidup yang cukup jauh antara mereka membuat Maemunah belum berani mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada orang yang disayanginya itu, dan Maemunah-pun hanya bisa menceritakan apa yang ada di salam hatinya kepada Ibunda tersayang, Raka, dan beberapa sahabat terdekatnya yang lain.

Maemunah mencoba bertahan sekuat hati, layaknya karang yang dihempas gelombang. Menyerahkan cinta tulus di dalam takdir, tapi sampai kapan harus menunggunnya?? Maemunah-pun belum tahu sampai kapan dia mampu dan kuat bertahan, tapi dia yakin semua kisah pasti ada akhir yg harus dilalui, dan semuanya akan indah pada waktunya.

.

.

Bersambuung..