Accidentally I found this project, called “365 Project”. 365 is simply the amount of the day in one year, and the basic concept of this project is to share one photo per day in all year long. I don’t know who exactly the Initiator of the project, but its kinda interesting project.
From the link that I found, there are 3 reason why we have to do it,
We are be able to recall what we did, and whatever we do in any day of our year;
It becomes an amazing document of what happen in our one year life;
Will make us to be a better photographer, because we will get better at composing our shots, we’ll start to care about lighting, and we’ll become more creative with our photography when we’re forcedto come up with something new every day.
This 365 project aims to collect photos documenting 1 year of our life. To build a picture of the little day to day things that make our life so special and unique. Everyone can take part and join in! All we need is a camera..
And for me, I will make my own project, still in the same project, only different in name, it is called “minus tigasatu snapshots”, because I already missed the whole day of January, and there are thirty one days !!!
Believe it or not, documenting is the word that simple to say but hardly to do, and please try this at home, and be creatively ever after ^_______^
Jakarta — 28 Januari 2010, sejumlah massa pun bergerak menuju Istana Negara guna melakukan Demo 100 Hari SBY-Budiono. Seperti dilansir beberapa media, demo ini akan mencapai 10rb orang bahkan lebih. Di titik favorit untuk Demonstrasi seperti di HI kerumunan massa-pun sudah berkumpul untuk menyampaikan apa yang menjadi tuntutan mereka terhadap SBY-Budiono. Bahkan seekor Kerbau-pun tidak ketinggalan dalam acara ini, walau pada akhirnya harus dilarang oleh polisi karena dikhawatirkan akan mengamuk dan menyerang massa.
Selain fenomena kerbau yang nongol di Bundaran HI, ada satu lagi gerombolan yang pasti akan ikut beriringan dengan para Demonstran yaitu gerombolan asongan dan penjual makanan. Mulai dari penjual minuman, penjual tisu dan rokok, penjual handuk, penjual rujak, sampai dengan penjual siomay dan sate padang (heum, jadi ini demo apa wisata kuliner,sih?? hehehe..).
Mungkin ini lah sebuah “moment” yang ditunggu para pedagang kecil tersebut, moment yang bisa dibilang jarang namun terhitung sering, dimana ribuan orang berkumpul dan ber-ratus-ratus ribu rupiah bakal tersebar. Walau panas dan terkadang hujan, mereka tetap setia mengikuti para pen-Demo kemanapun arus manusia itu berjalan hanya demi sesuap nasi bagi sanak keluarga di rumah. Maka bersyukurlah rekan-rekan sekalian jika bekerja lebih ringan dan mendapat penghasilan lebih daripada mereka, dan sesungguhnya rejeki itu haruslah Halal, adapun jika banyak itu tidak masalah, hehehe..
Mungkin masih banyak lagi sisi lain [yang lainnya] dari aktifitas ini, hanya bisa sedikit menceritakan serta berharap yang lebih baik untuk negeri ini…
Gateeel… in english biasanya sih disebut “itchy”, tapi ini bukan karena ga mandi loh, tp lebih karena pengen melakukan sesuatu cuman ndak terlaksana, bete ndak sih, huhuhu…
Banyak rencana-rencana yang belum terlaksana, termasuk rajin menulis di blog ini-pun belum tereleasasi secara optimal, aah payah!! Tepat dua bulan lebih sehari blognya ga tersentuh, sarang laba-labanya serasa udah tersebar disetiap pojokan terkecil di web ini..
Kau pikir semua berjalan seperti yang kau inginkan..
Tapi hidup meletakkan banyak belokan di jalanmu..
Satu belokan kecil bisa menimbulkan takdir yang berbeda..
Karena gatel makanya harus digaruk, so klo belum terlaksana, maka harus dilaksanakan!!!
Temaaaann-temann, jadi yah kita pergi tahun depaaaaaaan, heuheuheuehue….
Begitu banyak kejadian yang terjadi beberapa hari belakangan ini, yang menegangkan, lucu, dan fenomenal, haha… Pengen sih menuliskannya satu persatu, cuman ga mungkin tampaknya untuk waktu-waktu ini, banyak detlain euy (owh God, please make it Possible!!).
Kejadian Pertama,
Bajaj yang menyerudug mobil!! Yah, kejadian yang lumayan sering saya denger di seputaran Jakarta ini. The problem is [kebanyakan] yang salah bukan mobilnya, tapi Bajajnya. Secara kasat mata bisa dibayangkan, berapa banyak Bajaj yang menyalakan lampu sign sewaktu akan belok, atau sudah pernahkah melihat Bajaj membunyikan Klaksonnya?? Teringat canda seorang teman tentang Bajaj, kata dia, “Yang tahu kapan beloknya sebuah Bajaj cuma ada dua hal, pertama si Sopir Bajaj, dan yang kedua adalah Tuhan YME!!, yang lain ga berhak tahu, hehe…” jadi sangat wajar sekali klo Bajaj sering kali bermasalah.* –end story–
Kejadian Kedua,
Walau bulan Ramadhan tentunya FB tetep jalan donk, sejalan dengan itu fenomena status di Fb, saya pun secara tidak sadar menjadi penikmat status dari ratusan teman di yang ada di FB saya. Dan untuk hari ini sebagian besar berstatus seputar tanggal cantik hari ini yaitu 09/09/09, tak hanya itu, tanggal ini-pun bertepatan dengan hari lahir Orang no.1 di Indonesia (what a coincidence). Tapi, untuk hari ini saya nominasikan status dari seorang kawan, “Ga punya cowo, ditumpuk kerjaan, lagi banyak tekanan.. ga masalah.. yang penting i’m gonna be rich.. ada duit, smua masalah bisa diatuuuurr..” disambung dengan ketawa lepas khas dia. Walau status itu tidak sepenuhnya benar, tapi yang jelas tingkat optimisme semacam ini terkadang kita butuhkan untuk menghadapi masa-masa sulit, dan saya percaya bahwa sang empunya status diatas jg berdoa dalam mengatasi semua masalahnya, dan saya cuma bisa bilang, “abah like this.” dibarengi dengan acungan jempol khas FB. –end story–
Kejadian Ketiga,
Lebaran tinggal sebentar lagi, setali tiga uang dengan itu, pembicaraan seputar THR pun kian hangat di forum-forum dan berbagai status di aplikasi chatting dan pertemanan sosial. Bahkan pemerintah mewajibkan kepada para pengusaha untuk meyerahkan THR kepada karyawannya maksimal H-7. Tapi tidak semua karyawan menerima THR, mungkin dikarenakan kondisi perusahaan yang lagi tidak memungkinkan untuk itu, atau karyawan tersebut termasuk kalangan PNS. Khusus untuk alasan yang terakhir ini saya belum menemukan alasan yang melatarbelakangi kenapa bisa begitu (anyone know??). Jadi PR untuk tahun depan [jika masih diberi umur], berarti saya harus menyiapkan THR saya sendiri!! –end story–
Kejadian Keempat,
Mendadak malam ini cuaca di kamar begitu panas, bahkan aliran udara AC-pun tidak sanggup meredam peluh yang keluar silih berganti melewati pori-pori kulit ini. What’s wrong with this room, is it the air conditioner or a Global Warming??? Jadi pengen berendeeeemm…
.
.
*tidak ada maksut mendiskreditkan para sopir bajaj, cuma sekedar memotret kondisi yang ada di lapangan berdasarkan fakta kasus yang telah dilakukan uji publik sebelumnya.
Ps : Coretan ini ditulis pada tanggal 09/09/09 dengan meninggalkan sejenak segunung pekerjaan yang harus terselesaikan besok pagi. Dan akhirnya, dengan Rahmat Tuhan YME pada pukul 23:59:59 coretan ini-pun selesai dengan selamat sentausa bahagia dan sejahtera..
Kita pasti masih ingat (ya mungkin sedikit sih :p) cerita tentang Roro Jonggrang. Roro Jonggrang adalah seorang Putri Kerajaan Prambanan yang cantik jelita yang membuat Bandung Bondowoso (seorang yang suka memerintah dengan kejam) ingin mempersuntingnya. Singkat cerita, sang Putri-pun harus memutar otak supaya hal itu tidak menimpa dirinya.
“Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah!!”, kata sang Putri..
“Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.”, ujar sang Putri menambahi…
Ada juga cerita tentang Sangkuriang, yang secara tidak sengaja ingin menikahi Dayang Sumbi yang notabene adalah ibunya sendiri. Maka sang ibupun melakukan hal yang sama dengan Roro Jonggrang, yakni mengajukan syarat supaya pernikahan itu gagal. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Dan lagi-lagi kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing atau bisa dikatakan hanya satu malam saja.
Tak jauh-jauh dari cerita diatas, tersebutlah seorang pemuda (–sebut saja saya) mengalami hal yang sama. Sempet mikir juga, apa salah dan dosaku, kok bisa-bisanya semua harus dilaksanakan serba cepat dan harus jadi dalam waktu semalam. Jangankan kenal sama Sangkuriang, sama Roro Jonggrang-pun belum pernah naksir sama sekali gw, wkwkwkw.. Tapi anehnya kami (–atau bahkan kita) harus berbagi suatu pengalaman yang sama, sama-sama harus kerja semalam, harus kerja cepat, dan harus dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Teringat sewaktu kuliah dulu (–serasa dejavu banget!!), dimana tugas dikerjakan pada saat injury time (–alesannya sih biar adrenalin semakin terpacu, tp sebenernya sih belum dapet masteran, wkwkwkw…), menghadapi ujian-pun dengan Sistem Kebut Semalam, bener-bener kebiasaan yang tidak bagus (–dari dulu juga dah tahu sih, cuma kok tetep aja kejadian yah??? Hehehe…)
The negative is sometimes you don’t know your mistakes until the last minutes, and you don’t have enough time to change it, but in the other way you learn that you have to Think Fast, Act Fast, and make sure that you’ve done it in correct way, no turn back, and no cash back!!!
Pada akhirnya sekelumit cerita diatas meyakinkan kita bahwa “We will not go down in the night without a FIGHT”, so keep fighting, keep struggling, and keep the spirit up always!!!!
.
.
*sebuah metamorfosa Roro Jonggrang dan Sangkuriang[..]
Beberapa waktu lalu secara tidak sengaja kepikiran judul diatas, ga tau kenapa, tp klo sekiranya beneran, berarti lagu diatas akan dinyanyikan Melly Goeslaw ft. mbah Surip, heheheh… Tapi sayang mBah Surip keburu mendahului kita, semoga arwah beliau diterima disisi-Nya, amien..
Ngomongin ginian pasti ndak ada habisnya, begitu banyak lika-liku, manis getir, tangis tawa, dan juga setiap detail intrik dan problematika yang tak lupa ikut menghiasi satu kata itu. Tengok saja sudah berapa banyak lagu dan reality show di TV yang mengusung tema ini. Buku-pun begitu banyak ditulis untuk membahas masalah cinta, entah itu hanya sekedar cerita fiksi ataupun pengalaman pribadi si penulis. Yang jelas topik ini begitu populernya dikalangan remaja jaman sekarang.
“Aah,anak mudaaa……” gumamku dalam hati…
Ada salah satu ungkapan bahwa terkadang “Cinta bertepuk sebelah tangan”, emang sih ndak dapat dipungkiri itu sering terjadi, tapi klo menurut gw ungkapan itu harus diubah, kita harus memandangnya sebagai sesuatu yang positif, untukku “Cinta itu harus bertepuk tangan”, agar semua orang bisa merasakan aura bahagia dari cinta itu, ndak hanya pasangan itu saja yg seneng, tapi orang lain yg tau pun ikutan seneng, ahh senang rasanya!!! So, how about you???
Dibawah pohon itu, aku melihatnya pertama kali..
Entah sudah berapa bulan berlalu semenjak pertemuan itu..
Satu yang pasti, tidak akan pernah kulupa wajah itu..
Wajah yg bisa membuatku nyaman hanya dengan melihatnya saja..
Demm, aku terkena “Love under the Tree-syndrome”!!!
Since that day, I just wanna say “I Love You [Full]” to her..
Yang ku mau, “Cinta itu bertepuk tangan”, that’s enough!!
*Disadur tulus dari dalam hati, dengan sedikit penyesuain bahasa menurut Ejaan Yang Disempurnakan, wkwkwkwk….
Banyak sekali yang telah kualami beberapa minggu terakhir ini, masih berkutat dengan kesibukan kantor yang segunung, membuat jari-jari ini seakan mati rasa, pikiran buntu, kepala cekot-cekot, badan pegel-pegel, hingga tak sempat rasanya hanya untuk sekedar menulisakannya lewat kata-kata. Harus berpindah hotel sampe 4 kali dalam seminggu cukup membuat tingkat stress dalam darah meningkat tajam.
Alih-alih bisa tidur nyenyak, akhir-akhir ini malah insomnia yang melanda, gulang-guling kesana kemari tanpa bisa masuk ke alam mimpi yang nyaman. Sekalinya mimpi, eh mimpinya keseret banjir, seeet daaahhh horor banget mimpi gw deh, haha….
Layaknya seorang kepala negara yang memikirkan rakyatnya yang sedang kelaparan, mungkin begitu juga kali yah yang aku alami. Tiba-tiba banyak sekali masalah yang membebani pikiran ini, dari yang penting sampai yang ga penting tumplek blek jadi satu. Gak enah ah rasanyaaaa, huffff……
Hari minggu ini pun seakan begitu cepat berlalu, itu artinya besok sudah hari senin lagi, setumpuk pekerjaan pun siap menanti, dan segudang masalah-pun seakan siap mengisi celah-celah sempit di otak ini, berteriak satu-persatu untuk minta diselesaikan dengan segera.
Tak terasa kumandang adzan magrib di sore ini telah terdengar, segera kubasuh wajah ini untuk segera menghadap-Nya. Yang kutahu hanya satu, hanya kepada-Nya lah semua masalah ini bisa teratasi. Duh Gusti, maafkan segala dosa hambamu ini….
Selesai sholat magrib dan berlanjut isya’, kusempatkan kaki ini untuk melangkah keluar kamar untuk hanya sekedar mencari makan malam buat pengganjal perut sampe fajar esok hari terbit. Dengan berjalan kaki selama 10 menit, sampailah aku di warung nasi goreng langgananku. Setelah memesan makanan yang aku inginkan aku langsung duduk di salah satu kursi yang telah disediakan si abang. Alhamdulillah jualan si abang laku banget sore ini, banyak yang antri menunggu pesanan mereka masing-masing.
Sambil menunggu pesananku dibuat oleh si abang, aku perhatikan sekeliling tempatku duduk, berharap mendapat satu pelajaran berharga yang dapat kupetik di sore menjelang malam ini. Kuperhatikan tepat di seberang jalan sana, terdapat sebuah restoran mewah yang baru saja dibuka, pelanggannya-pun datang silih berganti dengan menggunakan mobil mewah, sangat jauh berbeda dengan warung tempatku duduk sekarang, dimana pembelinya rata-rata pejalan kaki, atau sopir bus dan bajaj yang kebetulan melintas didepan warung ini. Walaupun sangat berbeda jauh, keduanya sama-sama mempunyai rejeki sendiri-sendiri dan tidak bakal tertukar satu sama lain. “Tuhan memang Adil”, gumamku dalam hati.
Terkadang kita berpikir, masalah kita sudahlah yang paling berat, tapi seberat apapun masalah kita, tetap masih ada orang yang mempunyai masalah lebih berat dan lebih besar daripada kita. Mereka tetap optimis, mereka tetap menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur, karena mereka yakin pertolongan Allah jauuuuh lebih besar dari masalah yang mereka hadapi.
Ya Allah,
Kami mohon sesatkanlah kami ke jalan yang Engkau Ridhoi..
Cukup sesat, sehingga kami tidak bisa lagi menemukan jalan menuju murka-Mu..
Duh Gusti,
Terima kasih atas semua kesulitan dan masalah yang telah Panjenengan anugrahkan kepada kami..
Karena kami yakin Panjenengan Maha Tahu atas apa yang terbaik bagi kami…
Ah, sungguh nikmat bisa mengucap syukur seperti ini…
D’Masiv – Jangan Menyerah
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Back to Reff 1
Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa
Diundang seorang teman untuk ikut hadir dalam suatu acara di salah satu Stasiun TV swasta kira-kira sebulan yang lalu, meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam benak ini. Bagaimana tidak, studio yang penuh sesak dengan penonton secara serta merta berubah menjadi Play Group yang beranggotakan anak-anak diatas umur. Di studio yang tidak begitu besar itu, seisi ruangan seakan tersihir dan begitu patuh pada satu komando. Dialah sang Floor Director (FD) yang membuat semua itu terjadi. Mulai dari anak-anak sampai pimpinan perusahaan baik disadari atau tidak selalu mengikuti semua arahan dari sang FD, mulai dari berdiri, bernyanyi, sampai tepuk tangan bersama-pun dilakukan penonton di studio tanpa ada rasa canggung.
Walau disiarkan secara Live, si FD begitu tenang dan santainya menjalankan apa yang menjadi tugasnya. Mungkin karena sudah sering dan berpengalaman dalam mengatur orang, acara di malam itu berjalan nyaris tanpa kendala. Setiap perpindahan dari segmen ke segmen terasa begitu lancar dan penontonpun menikmati setiap detil acaranya (setidaknya dari pandangan saya). Sesekali canda dari FD menjadi hiburan tesendiri bagi penonton yang hadir di studio, mulai dari candaan yang ga penting sampai candaan yang [lebih] ga penting lagi selalu terlontar ketika iklan sedang tampil di televisi.
Kalau ditilik secara lebih mendalam, beberapa dari kita sering tergabung dalam panitia kecil, minimal di lingkungan keluarga kita sendiri, walau cuma sekedar panitia Arisan Keluarga. Sama seperti sang FD diatas, dia adalah satu diantara banyak panitia yang bertanggung jawab penuh terhadap suatu acara. Kerja sama tim yang solid, susunan acara yang bagus, dana yang cukup, dibarengi dengan jobdesk yang jelas, serta ditunjang alat komunikasi dan sarana prasarana yang memadai membuat semua hal diatas bisa terlaksana dengan baik.
Pernah [dan sering] penulis dihadapkan pada kondisi minimal, dimana suatu acara yang harusnya dikerjakan banyak orang, harus dikerjakan beberapa gelintir orang saja. Mulai dari menjadi seksi acara, seksi perlengkapan, sekaligus merangkap sebagai seksi konsumsi. Kata seorang teman, “Siksa aja gue sekalian!!!” disertai pandangan matanya yang tajam, mengiris, menusuk, sekaligus menghujam jiwa!! (wahahaha, Lebaiii…). Tetapi terlepas dari itu semua, positifnya kita menjadi lebih tahu akan banyak hal, karena mau tidak mau kita telah mengalaminya sendiri, walau tidak dapat dipungkiri terjadi banyak kekurangan disana-sini, tetapi secara keseluruhan acara berjalan cukup lancar.
Teringat pesan dari salah satu pegawai disini,
“Kalau kerja disini, semua kerjaan harus bisa, dari mulai yang menggunakan otak sampai dengan yang menggunakan otot!”.
Heuuum..kalau kata gue siihh, “Oke Coooyyy” hehehhe… []
Harus melakukan perjalanan dari kota ke kota memaksa tubuh ini selalu bertemu dengan hal-hal yang baru. Mulai dari bertemu dengan orang-orang yang baru serta logat bahasa yang berbeda, keadaan cuaca yang agak sedikit berbeda dengan di Jakarta, dan tentunya makanan khas yang berbeda pula. Hal-hal yang unik, inspiratif, dan terkadang lucu menjadi ilmu baru yang membuat pikiran ini kembali segar ditengah-tengah tuntutan pekerjaan yang seakan tiada henti membebani fikiran dan badan ini.
Gorontalo, kota yang terletak di Sulawesi ini mengenalkanku pada sosok Pak Haji, seorang yang begitu santun dan penuh semangat. Beliau adalah mantan penyuluh program KB di jaman Pak Harto dulu. Tempat tinggalnya yang cukup jauh dari lokasi acara tak meruntuhkan niatnya untuk datang menghadiri acara yang kami laksanakan. Menurut panitia daerah yang bersama kami, si Bapak ini berangkat paling tidak sekitar pukul 5 pagi dari rumahnya, harus berganti angkutan minimal dua kali, dan memerlukan biaya setidaknya Rp. 75.000,- (–seingat saya, perjalanan dari Bandung-Solo bisa ditempuh dengan hanya Rp. 70.000,- saja). Dari beliau aku tahu bahwa daerah tempat tinggal beliau belum dialiri listrik, dan beliau pun belum mampu mengoperasikan Komputer, tapi anehnya beliau sudah punya Laptop!!!
Palangka Raya, produk andalan di kota ini adalah Ikan Patin, Rotan, dan Batu-batuan mulia. Daerah yang terletak di Kalimantan Tengah ini cukup ditempuh satu jam saja dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Walau sama-sama terletak di Kalimantan dan sama-sama mempunyai Bandar Udara, perjalanan dari Palangka Raya menuju Pontianak via udara tidak bisa dilakukan secara langsung. Bagi yang ingin melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara harus singgah ke Jakarta dahulu baru setelah itu melanjutkan penerbangan ke Pontianak. Dan apa yang aku temukan di Palangka Raya tak pernah terbersit sedikitpun di pikiran ini sebelumnya. Di Jawa, kita sering memakan Rebung, disini saya memakan Sup Rotan!!!
Kediri, untuk menuju ke kota di Jawa Timur ini, kita harus menggunakan angkutan darat, karena tidak ada bandara di kota ini. Setidaknya 4 jam dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari Bandara Juanda Surabaya menuju kota ini. Dari sopir travel yang mengantarkan kami ke Kediri, aku tahu bahwa Pabrik Gudang Garam di kota ini mempunyai luas lahan hampir seperempat dari luas Kota Kediri itu sendiri. Dia berkata, kalau tidak ada pabrik ini mungkin Kediri akan menjadi kota yang sepi, dan yang tak kalah mengejutkan, di pabrik ini tidak pernah terjadi demo seperti di pabrik-pabrik lain, hal ini dikarenakan kesejahteraan karyawan pabrik sangat diperhatikan. Untuk diketahui, seorang Driver saja dapat mendapatkan THR setidaknya Rp. 10.000.000,- dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tapi hal itu masih belum mengejutkan dibandingkan seorang Bapak yang membahasa-inggriskan ‘Telur Ayam’ menjadi ‘Egg Chiken’!!!
.
.
Can’t wait for the next Journey, new People, and new Advanture…
[Tidak] Seperti kata pepatah, “Bagai anak ayam ditinggal induknya”, si ‘anak ayam’ yang satu ini terlihat lebih tegar tatkala harus ditinggal oleh seseorang yang sangat disayanginya. Berat memang apa yang harus dialaminya sehari kemaren, tetapi sorot matanya mengatakan bahwa dia harus kuat, dia harus sabar, dan yang terpenting dia harus ikhlas. Kejadian ini bukan kali pertama menimpanya, beberapa tahun silam-pun dia pernah merasakan hal yang sama, kehilangan salah satu orang terkasih..
“Dan yang menjadi juaranyaaa adalaah ‘Anak Ayam’, horeeee..” Plok..plok..plok…
Sebuah kalung berhiaskan dua buah roti beserta satu kado berisikan boneka anak ayam-pun berhasil Ia sabet dengan sukses. Dan suara riuh tepuk tangan-pun sekali lagi bergema di ruang nan sempit itu..
Suasana dua hari yang lalu itu serasa begitu jauh berbeda dengan suasana keesokan paginya, canda tawa di sore itu berganti dengan derai air mata penuh duka. Hati ini seakan ikut merasakan bagaimana kelabunya pagi itu, ya Allah ampunilah dosa-dosa beliau, berikan beliau tempat yang layak disisi-Mu, dan bagi keluarga yang ditinggalkan berikan ketabahan serta keikhlasan dalam menghadapi ini semua.
Satu hal yang paling pasti di dunia ini adalah kematian, kita tak pernah tahu kapan sang malaikat maut akan mencabut nyawa kita, kita hanya dan harus ‘cukup siap’ saja dalam menghadapainya. Pertanyaannya, apakah sekarang kita sudah ‘cukup siap’??
Yang sabar ya nak.. Kita akan selalu disampingmu, menemanimu, berbagi sedih dan tawa ini…
When youre feeling sad and low
We will take you where you gotta go
Smiling, dancing, everything is free
All you need is positivity..