Diundang seorang teman untuk ikut hadir dalam suatu acara di salah satu Stasiun TV swasta kira-kira sebulan yang lalu, meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam benak ini. Bagaimana tidak, studio yang penuh sesak dengan penonton secara serta merta berubah menjadi Play Group yang beranggotakan anak-anak diatas umur. Di studio yang tidak begitu besar itu, seisi ruangan seakan tersihir dan begitu patuh pada satu komando. Dialah sang Floor Director (FD) yang membuat semua itu terjadi. Mulai dari anak-anak sampai pimpinan perusahaan baik disadari atau tidak selalu mengikuti semua arahan dari sang FD, mulai dari berdiri, bernyanyi, sampai tepuk tangan bersama-pun dilakukan penonton di studio tanpa ada rasa canggung.
Walau disiarkan secara Live, si FD begitu tenang dan santainya menjalankan apa yang menjadi tugasnya. Mungkin karena sudah sering dan berpengalaman dalam mengatur orang, acara di malam itu berjalan nyaris tanpa kendala. Setiap perpindahan dari segmen ke segmen terasa begitu lancar dan penontonpun menikmati setiap detil acaranya (setidaknya dari pandangan saya). Sesekali canda dari FD menjadi hiburan tesendiri bagi penonton yang hadir di studio, mulai dari candaan yang ga penting sampai candaan yang [lebih] ga penting lagi selalu terlontar ketika iklan sedang tampil di televisi.
Kalau ditilik secara lebih mendalam, beberapa dari kita sering tergabung dalam panitia kecil, minimal di lingkungan keluarga kita sendiri, walau cuma sekedar panitia Arisan Keluarga. Sama seperti sang FD diatas, dia adalah satu diantara banyak panitia yang bertanggung jawab penuh terhadap suatu acara. Kerja sama tim yang solid, susunan acara yang bagus, dana yang cukup, dibarengi dengan jobdesk yang jelas, serta ditunjang alat komunikasi dan sarana prasarana yang memadai membuat semua hal diatas bisa terlaksana dengan baik.
Pernah [dan sering] penulis dihadapkan pada kondisi minimal, dimana suatu acara yang harusnya dikerjakan banyak orang, harus dikerjakan beberapa gelintir orang saja. Mulai dari menjadi seksi acara, seksi perlengkapan, sekaligus merangkap sebagai seksi konsumsi. Kata seorang teman, “Siksa aja gue sekalian!!!” disertai pandangan matanya yang tajam, mengiris, menusuk, sekaligus menghujam jiwa!! (wahahaha, Lebaiii…). Tetapi terlepas dari itu semua, positifnya kita menjadi lebih tahu akan banyak hal, karena mau tidak mau kita telah mengalaminya sendiri, walau tidak dapat dipungkiri terjadi banyak kekurangan disana-sini, tetapi secara keseluruhan acara berjalan cukup lancar.
Teringat pesan dari salah satu pegawai disini,
“Kalau kerja disini, semua kerjaan harus bisa, dari mulai yang menggunakan otak sampai dengan yang menggunakan otot!”.
Heuuum..kalau kata gue siihh, “Oke Coooyyy” hehehhe… []
*mba’e yg baju merah.. :p






